Minggu, 28 Oktober 2012

Seni Jalanan, Refleksi Kesenian Rakyat

Seni Jalanan, Refleksi Kesenian Rakyat


Seni Jalanan, Refleksi Kesenian Rakyat
“Saudara, saudara….
Aku telah menulis surat kepada sebuah keluarga
Suratku tidak berisi tentang keadaan yang sedang kesulitan
Suratku tidak berisi tentang kawanku yang giginya tertelan      bersama darah yang dipaksa masuk dengan sepatu kulit”
Sepenggal bait puisi karya Dewan mengawali sebuah aktifitas di satu persimpangan yang ramai di Kota Medan.
Di bawah tiang trafic light seorang lelaki tua duduk dengan memegang wadah bulat jaring-jaring. Di sekitarnya kendaraan berseliweran, mobil, becak mesin, sepeda motor hingga pejalan kaki yang akan menyeberang. Lelaki tua itu bajunya lusuh, mengenakan kain sarung koyak dengan corak kotak-kotak yang warnanya memudar lengkap dengan kopiah hitam di kepalanya. Temaram lampu jalanan samar-samar menyinari tubuhnya yang ringkih. Jika lelaki tua itu mendongak ke atas maka akan tampak sebuah baliho besar yang berada tepat di atas kepalanya.
Lain halnya yang terjadi di seberang jalan tempat ia duduk di atas trotoar Simpang Halat itu. Sekelompok komunitas jalanan sedang beraksi. Aksi seni jalanan dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, malam itu Sabtu, minggu kedua di bulan Mei. “Kepada pengendara roda empat maupun roda dua, hari ini tanggal 21 Mei. Tepat pada tanggal itu 13 tahun yang silam ditandai dengan lengsernya mantan presiden Alm. Soeharto. Maka dari itu kami di sini ingin meperingati hari Harkitnas yang ditandai dengan kejatuhan beliau,” ungkap Dewan melalui alat pengeras suara dengan nada melengking yang kemudian dilanjutkan dengan membaca puisi.
Komunitas jalanan itu dimotori oleh pemuda-pemudi tak tahu malu yang berasal dari sejumlah kampus di Kota Medan. Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) Medan, Teater O USU, Universitas Negeri Medan (UNIMED) serta beberapa kampus lainnya. Kenapa tak tahu malu? Karena mereka melakukan aksi kesenian di jalanan, seperti membaca puisi, teater atau hanya sekedar menyampaikan unek-unek tentang kehidupan sosial. Meski di jalanan suasana tak kondusif,tak peduli yang penting aksi itu tetap berjalan. Biarpun yang hadir hanya tiga orang, aksi juga tetap berlanjut.
Kelompok ini dinamakan Komunitas Seni Jalanan (KSJ). KSJ berdiri pada tahun 2008. Dewan, Idral, Dio, Yoz dan Jafar merupakan penggagas komunitas ini. Dalam kesenian jalanan biasanya komunitas ini melakukan kegiatan apresiasi puisi, baik puisi karya pribadi maupun karya sastrawan ternama seperti puisi Wiji Tukul, WS Rendra, Chairil Anwar dan sebagainya. Selain apresiasi puisi, mereka juga melakukan aksi teatrikal.
KSJ berdiri lantaran keinginan Dewan sebagai leader di KSJ untuk menyajikan kesenian secara merakyat. Dengan berpuisi, teatrikal dan bermusik di jalanan akan lebih mendekatkan seni itu ke masyarakat. Sebab pada dasarnya seni itu merupakan milik rakyat dan lahir di tengah-tengah masyarakat, di mana selama ini seni dijadikan sebagai lahan industri. Seni pada dasarnya adalah milik rakyat, yang hadir atas refleksi kehidupan sebagai anak manusia. Maka dari itu seni harus merakyat.
Aksi seni jalanan sengaja dilakukan pada malam hari, karena ingin menyuguhkan sebuah wacana baru. Bahwa tidak melulu aksi diadakan pada siang hari. Setiap seminggu sekali atau tiap ada momentum besar, KSJ turun kejalan pada malam hari. Biasanya dimulai pada pukul 19.30 dan berakhir pada pukul 21.00 WIB. Secara bergilir anggota KSJ membacakan puisi, berteatrikal dan menyampaikan unek-unek. Sontak aksi itu mengundang perhatian pengguna jalan yang melintas di persimpangan Jalan Halat. Tanggapan pengendara beragam, ada yang juga ikut berteriak, ada yang hanya memperhatikan, ada yang tak peduli bahkan ada yang mengejek. Semuanya itu tidak membuat gentar anggota KSJ untuk terus lantang bersuara dan berkesenian.
Selain itu KSJ juga sering memperingati sejumlah sastrawan-sastrawan yang telah meninggal. Misalnya WS Rendra pada pertengahan bulan Maret lalu dengan tema “Tribute to Rendra” di pelataran Kampus STIK-P dan memperingati Chairil Anwar di Titi Gantung, di mana Titi Gantung memiliki kenangan indah bagi Chairil Anwar di masa muda yang sering menghabiskan waktunya di Titi Gantung.
Dewan sebagai motor KSJ mengaku bahwa KSJ bukanlah hal baru di Indonesia, namun setidaknya dapat membuka wacana baru atas rutinitas berkesenian yang selama ini monoton dilakukan di panggung-panggung besar atau di satu gedung pertunjukan. Di Kota Medan sendiri KSJ merupakan satu-satunya aksi kesenian di jalanan. Aksi ini patut diacungi dua jempol.
Malam semakin larut, tatkala Anggi usai membaca puisi dari Wiji Tukul dengan judul “Lampu Merah” maka aksi kesenian itu berakhir. Untuk menutup kegiatan itu, seperti biasanya para anggota berdiskusi dan mengevaluasi kegiatan sambil duduk di atas trotoar di Simpang Halat itu. Bubar sudah. Namun sebagai penutup anggota KSJ menyanyikan lagu “Padamu Negeri” sembari tangan kanan memegang dada.

1 komentar:

  1. Salam Kenal ya Agan Dan Sista ^^
    Jangan lupa mampir ke blog aku ya :)
    Banyak artikel bermanfaat dan menarik lho !!

    https://tasyataipanqq.blogspot.sg/2017/12/15-film-terbaik-sepanjang-masa.html

    BalasHapus