Seni Jalanan, Refleksi Kesenian Rakyat
Seni Jalanan, Refleksi Kesenian Rakyat
“Saudara, saudara….
Aku telah menulis surat kepada sebuah keluarga
Suratku tidak berisi tentang keadaan yang sedang kesulitan
Suratku tidak berisi tentang kawanku yang giginya tertelan bersama darah yang dipaksa masuk dengan sepatu kulit”
Sepenggal bait puisi karya Dewan mengawali sebuah aktifitas di satu persimpangan yang ramai di Kota Medan.
Di bawah tiang trafic light seorang lelaki tua duduk dengan memegang wadah bulat jaring-jaring. Di sekitarnya kendaraan berseliweran,
mobil, becak mesin, sepeda motor hingga pejalan kaki yang akan
menyeberang. Lelaki tua itu bajunya lusuh, mengenakan kain sarung koyak
dengan corak kotak-kotak yang warnanya memudar lengkap dengan kopiah
hitam di kepalanya. Temaram lampu jalanan samar-samar menyinari tubuhnya yang ringkih. Jika lelaki tua itu mendongak ke atas maka akan tampak sebuah baliho besar yang berada tepat di atas kepalanya.
Lain halnya yang terjadi di seberang jalan tempat ia duduk di atas trotoar Simpang Halat itu. Sekelompok komunitas jalanan sedang beraksi. Aksi
seni jalanan dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, malam itu
Sabtu, minggu kedua di bulan Mei. “Kepada pengendara roda empat maupun
roda dua, hari ini tanggal 21 Mei. Tepat pada tanggal itu 13 tahun yang
silam ditandai dengan lengsernya mantan presiden Alm. Soeharto. Maka
dari itu kami di sini ingin meperingati hari Harkitnas yang ditandai
dengan kejatuhan beliau,” ungkap Dewan melalui alat pengeras suara
dengan nada melengking yang kemudian dilanjutkan dengan membaca puisi.
Komunitas jalanan itu dimotori oleh pemuda-pemudi tak tahu malu yang berasal dari sejumlah kampus di Kota Medan. Sekolah
Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) Medan, Teater O USU,
Universitas Negeri Medan (UNIMED) serta beberapa kampus lainnya. Kenapa
tak tahu malu? Karena mereka melakukan aksi kesenian di jalanan, seperti
membaca puisi, teater atau hanya sekedar menyampaikan unek-unek tentang
kehidupan sosial. Meski di jalanan suasana
tak kondusif,tak peduli yang penting aksi itu tetap berjalan. Biarpun
yang hadir hanya tiga orang, aksi juga tetap berlanjut.
Kelompok
ini dinamakan Komunitas Seni Jalanan (KSJ). KSJ berdiri pada tahun
2008. Dewan, Idral, Dio, Yoz dan Jafar merupakan penggagas komunitas
ini. Dalam kesenian jalanan biasanya komunitas ini melakukan kegiatan apresiasi
puisi, baik puisi karya pribadi maupun karya sastrawan ternama seperti
puisi Wiji Tukul, WS Rendra, Chairil Anwar dan sebagainya. Selain
apresiasi puisi, mereka juga melakukan aksi teatrikal.
KSJ berdiri lantaran keinginan Dewan sebagai leader di KSJ untuk menyajikan kesenian secara merakyat.
Dengan berpuisi, teatrikal dan bermusik di jalanan akan lebih
mendekatkan seni itu ke masyarakat. Sebab pada dasarnya seni itu
merupakan milik rakyat dan lahir di tengah-tengah masyarakat, di mana
selama ini seni dijadikan sebagai lahan industri. Seni pada dasarnya
adalah milik rakyat, yang hadir atas refleksi kehidupan sebagai anak
manusia. Maka dari itu seni harus merakyat.
Aksi
seni jalanan sengaja dilakukan pada malam hari, karena ingin
menyuguhkan sebuah wacana baru. Bahwa tidak melulu aksi diadakan pada
siang hari. Setiap seminggu sekali atau tiap ada momentum besar, KSJ
turun kejalan pada malam hari. Biasanya dimulai pada pukul 19.30 dan
berakhir pada pukul 21.00 WIB. Secara bergilir anggota KSJ membacakan
puisi, berteatrikal dan menyampaikan unek-unek. Sontak aksi itu
mengundang perhatian pengguna jalan yang melintas di persimpangan Jalan
Halat. Tanggapan pengendara beragam, ada yang juga ikut berteriak, ada
yang hanya memperhatikan, ada yang tak peduli bahkan ada yang mengejek.
Semuanya itu tidak membuat gentar anggota KSJ untuk terus lantang
bersuara dan berkesenian.
Selain itu KSJ
juga sering memperingati sejumlah sastrawan-sastrawan yang telah
meninggal. Misalnya WS Rendra pada pertengahan bulan Maret lalu dengan
tema “Tribute to Rendra” di pelataran Kampus STIK-P dan memperingati
Chairil Anwar di Titi Gantung, di mana Titi Gantung memiliki kenangan
indah bagi Chairil Anwar di masa muda yang sering menghabiskan waktunya
di Titi Gantung.
Dewan sebagai
motor KSJ mengaku bahwa KSJ bukanlah hal baru di Indonesia, namun
setidaknya dapat membuka wacana baru atas rutinitas berkesenian yang
selama ini monoton dilakukan di panggung-panggung besar atau di satu
gedung pertunjukan. Di Kota Medan sendiri KSJ merupakan satu-satunya
aksi kesenian di jalanan. Aksi ini patut diacungi dua jempol.
Malam semakin
larut, tatkala Anggi usai membaca puisi dari Wiji Tukul dengan judul
“Lampu Merah” maka aksi kesenian itu berakhir. Untuk menutup kegiatan
itu, seperti biasanya para anggota berdiskusi dan mengevaluasi kegiatan
sambil duduk di atas trotoar di Simpang Halat itu. Bubar sudah. Namun
sebagai penutup anggota KSJ menyanyikan lagu “Padamu Negeri” sembari
tangan kanan memegang dada.

Salam Kenal ya Agan Dan Sista ^^
BalasHapusJangan lupa mampir ke blog aku ya :)
Banyak artikel bermanfaat dan menarik lho !!
https://tasyataipanqq.blogspot.sg/2017/12/15-film-terbaik-sepanjang-masa.html